Jengah

 




KUPIKIR, aku harus membuat sebuah resolusi atau pertanyaan yang harus aku lakukan dan jawab di akhir tahun ini. Mungkin, itu akan menjadi arah bagiku yang tidak pernah punya arah. 

Orang-orang sering berpikir aku terencana, cerdik, dan taktis dalam hal apapun. Tapi, mereka tidak tahu bahwa; aku tidak punya tujuan apapun. 

Aku menjalani hari dengan datar. Aku menjalani tahun dengan tidak sadar. Dan aku memulai tahun baru dengan penyesalan. Sebuah perasaan yang sudah akrab denganku, namun sepertinya dia membenciku. Jadi, aku harus membencinya juga. 

Di sisi lain dalam diriku, aku ingin menangis. Oh iya, kapan terakhir aku menangis? Aku sudah lupa. Lupa karena aku jarang menangis. Dan lupa seberapa lemahnya diriku. Aku selalu mengingat, bahaa tangisan adalah bentuk kejujuran emosi paling tinggi. Saat kamu senang, sedih, takut; pada puncaknya tanpa satu kata untuk bicara, tangisan akan muncul sebagai sebuah kejujuran dan kedalaman perasaan. Apapun bentuk tangisan itu, itu sangat bermakna. Mungkin karena itulah aku membenci tangisan palsu, karena kebohongan menodai indahnya tangisan itu.

Aku akan membuat tujuan untuk tahun ini, tapi aku perlu berpikir. Jadi, aku beri waktu 2 hari untuk diriku. Selesaikan list tujuan yang mau kamu raih. Jika dalam 2 hari kamu gagal, lebih baik kamu dimakan saja oleh segala keburukan dalam dirimu itu.

Dulu, aku selalu keras pada diriku. Tidak ada apresiasi, tidak ada berhenti. Selama aku bisa berdiri, aku akan mendorong tubuh dan pikiranku untuk berfungsi. Namun, setelah semua pesimisme itu hilang, aku mulai manja. Aku mulai merasa bahagia dan akhirnya menyenangkan diriku sendiri. Aku merasa, seperti kehilangan diriku yang baik. Jadi, sepertinya, di tahun ini, aku akan mulai keras pada diriku sendiri. Tidak peduli dia menjerit, malas, lelah, sakit, aku akan mendorongnya hingga batas. Karena itu satu-satunya yang bisa kulakukan untuk kembali ke diriku sendiri. 

Mungkin, inilah yang disebut hidup dengan bermakna. Seperti kunang-kunang.

Postingan populer dari blog ini

Viola

Book Review - Gila Baca Ala Ulama

Untuk Apa Aku Menulis?