Dia yang Mencekam: Datang
Sepertinya, perasaan ini memang sudah menyatu denganku. Dia tidak pernah hilang, hanya sembunyi, menunggu aku lengah, dan dia akan menguasaiku. Lagi.
Aku takut. Takut akan banyak hal. Pikiranku positif, dan aku yakin pikiranku juga kuat. Namun, perasaan ini berbeda. Ya, aku perasa. Dan aku hidup dengan merasa. Merasa bahwa aku buruk, merasa bahwa aku kurang, dan merasa bahwa aku perlu untuk menjadi perasa.
Mungkin, di suatu tempat, ada yang sepertiku; di awal tahun ini, yang entah akan menjadi buruk atau baik, tapi sudah dimulai dengan perasaan yang buruk. Aku menuliskan ini dengan begitu saja tanpa berpikir. Di handphone dengan latar suara game di belakangnya. Mungkin, ini menjadi tulisan terburukku.
Aku tidak bisa menyemangati siapapun dalam tulisan ini, tapi aku hanya ingin mengatakan 1 hal kepadaku di masa depan yang membaca ini: perasaan pesimisme mu masih ada. Dia mengakar di dalam tubuhmu, mengait semua pikiranmu, dan akan memakanmu kapanpun dia mau. Kau harus siap, kau harus bertahan.
Jangan sampai dia memakanmu.
Menulislah saat kamu takut.
Menulislah saat dia datang.
Karena itu satu satunya pertahanan diri yang kau miliki.
Ya, karena kau sendirian.
