Book Review - Ronggeng Dukuh Paruk

 




"Merugilah orang yang mengabaikan tiga perkara teras kehidupan. Yakni terampil, keutamaan, dan kepandaian. Bila tri perkara ini ditinggalkan, punahlah citra keutamaan manusia. Dia tidak lebih utama daripada daun jati kering; melarat, mengemis, dan menggelandang." p-198.

Ini adalah buku pertamanya Ahmad Tohari yang kubaca. Di awal, aku merasa biasa aja sama setting desa kecil yang miskin dan terisolasi ini. Tapi semakin lama rasanya ngena banget. Ceritanya tentang Srintil, gadis cilik yang ditakdirkan jadi ronggeng di Dukuh Paruk, dan Rasus, teman masa kecilnya yang jatuh cinta tapi akhirnya pergi karena gak tahan liat Srintil "dijual" demi tradisi desa.

Buku ini terdiri dari trilogi yang sudah dijadikan satu. Alur maju mundur antara masa kecil, kejadian tempe bongkrek hingga konflik tuduhan 1965. Membahas dan mengambil cerita kehidupan "desa bawah" di Jawa, penuh kemiskinan, kebodohan, dan bagaimana tradisi ronggeng jadi simbol identitas tapi juga penindasan perempuan. Karena sering dibilang "sama-sama masterpiece" dengan Bumi Manusia, kukira gaya bahasanya akan sama epik dan revolusionernya Pram. Ternyata, Tohari membelai lembut dengan kata-kata yang lebih puitis tapi menggerat hati dan pikiran. Dia nggak menggurui, tapi membawa kita langsung merasakan debu, kemiskinan, dan magisnya kehidupan di Dukuh Paruk.

Dan Ahmad Tohari bikin hati terus teriris-iris dengan nasib Srintil. Kehidupan Dukuh Paruk yang miskin, magis, tapi penuh aturan adat yang kejam itu bikin gregetan. Tapi kritiknya, kadang terasa terlalu fatalis, seperti nasib perempuan di desa cuma bisa pasrah sama tradisi, tanpa banyak ruang buat perlawanan. Plotnya tragis, tapi itu yang bikin memorable.

Siapa sangka, ronggeng yang jadi kebanggaan desa akhirnya jadi korban politik besar, dan siapa sangka, Rasus yang pergi balik lagi tapi semuanya udah terlambat.

Dan lagi, siapa sangka, harapan terakhir Srintil untuk menjadi wanita somahan (istri) yang sederhana justru dihancurkan oleh seorang pria kota yang tampak baik; Bajus, yang pada akhirnya memperlakukannya bukan sebagai manusia, melainkan sebagai objek.

Dan sampe sekarang aku masih, "mboh lah." dengan ending dan nasib Srintil; perempuan lugu, dengan harapan dan keinginan yang ditekan oleh zaman, rezim, dan kelelakian. Impiannya hilang, dirinya hilang, dan kewarasannya hilang. Dukuh Paruk dengan kejamnya menyita semua yang ia miliki. Dengan kebodohannya, merenggut nasib seorang anak perempuan lugu dan naif. Dengan mitosnya, mengunci semua kebodohan dan harapan agar tidak keluar dari Dukuh Paruk.

"Ronggeng bagi dunia Dukuh Paruk adalah citra sekaligus lambang gairah dan sukacita. Keakuannya adalah yang memancarkan semangat hidup alami, semangat yang sama yang telah menerbangkan burung-burung dan memekarkan bunga-bunga. Jadi, ronggeng adalah dunia sukari dan gelak tawa." -p.143

Postingan populer dari blog ini

Viola

Book Review - Gila Baca Ala Ulama

Untuk Apa Aku Menulis?