Book Review - Jika Kucing Lenyap Dari Dunia
Gimana kalau mau mati, tapi diberi kesempatan untuk terus hidup dengan menghilangkan 1 benda untuk 1 hari? Mungkin bakal dengan senang hati menerima tawaran itu.
Pertama, bagaimana kalau kita hilangkan telepon? Mungkin dunia menjadi lebih bahagia, percakapan bisa berlangsung menyenangkan. Namun bagaimana jika kita mau janjian? Menjadwalkan sesuatu? Bukankah itu kurang praktis?
Berikutnya, mari kita hilangkan film. Bagi para pecinta film, ini buruk sekali. Mungkin kenangan masa lalu tentang film yang pernah ditonton dengan orang berharga menghilang, film dengan banyak kenangan lenyap.
Oke, kita hilangkan saja jam. Waktu hanya dikenali dengan pagi, siang, sore, malam. Kenapa manusia begitu ribet hingga memberi detail waktu? Kenapa pula harus bangun jam 7 dan tidur jam 9?
Yasudah, mari kita hilangkan kucing. Ah, tidak! Kucing —makhluk berbulu yang sudah menjaga manusia selama ini, menghisap kesedihan manusia, meongan yang menyenangkan.
Baiklah, menyerah. Mari hilangkan saja diriku sendiri. Hidup dengan merenggut sesuatu itu menyakitkan.
Buku ini santai, tapi jangan terkecoh dengan "santai" nya. Justru dengan kalimat santai itu rasanya lebih menusuk. Satu persatu hal yang dihilangkan demi menyambung hidup, memiliki makna berharga untuk manusia. Hal-hal yang kita anggap "remeh" itu yang membangun "diri" kita hingga saat ini.
Waktu baca buku ini, aku dibuat berpikir, "apa yang ingin aku lakukan sebelum mati?" atau, "apa orang akan sedih kalau aku mati?" Mungkin terdengar klise, tapi sebagai manusia, aku juga memikirkan hal itu.
Aku juga dibuat sadar, waktu yang kita gunakan selama ini itu sangat berharga. Waktu untuk berkumpul, jalan-jalan, bermain. Kenapa pula harus aku habiskan untuk tugas? Pekerjaan?
Kita terlalu memikirkan hal yang tidak penting hingga melewatkan sesuatu yang paling penting.
"Untuk memperoleh sesuatu harus mengorbankan sesuatu."
