Tulislah Bagaimana Emosimu



HARI ini dua tulisanku berhasil dimuat pada sebuah media. Awalnya aku tidak terlalu ingin mempublikasikannya jika bukan karena tuntutan ujian. Tapi saat aku menuliskannya, perasaan ingin mempublikasikan itu muncul dan secara mendadak menjadi sebuah ambisi yang serius. Aku mencari banyak jurnal dan tulisan-tulisan sebagai referensi, tapi hasilnya tetap tidak sesuai bayanganku. Masih banyak kata yang tidak bisa aku sesuaikan sebanyak apapun aku memikirkannya, kurasa aku harus lebih banyak menulis berbagai hal. 

Tapi, bukankah menulis adalah sesuatu yang kompleks? Kupikir jika Murakami diharuskan menulis berita dia juga akan kesulitan walaupun karangan fiksinya sangat mengagumkan. Apakah jika aku berpikir bahwa aku hanya menempatkan diriku pada tulisan cerita akan menghambatku pada jenis tulisan lain? Jika memang begitu, seharusnya aku berhenti menulis saja!

Tapi, hal yang aku pahami adalah, menulis adalah adaptasi. Aku memang kesulitan dalam menulis ilmiah atau narasi tugas, tapi beberapa kali aku merasa bisa menuliskannya tanpa hambatan dan jeda. Kupikir menulis adalah keahlian, tapi aku mulai berpikir hal lain.

Menulis adalah sebuah perasaan.

Mungkin aku pernah menuliskan hal yang sama, tapi aku ingin mempertegas, bahwa tulisan bisa ditulis siapa saja bagi mereka yang bisa menulis dan membaca. Tidak perlu keahlian khusus atau ketiadaan bakat yang dijadikan asalan karena enggan menulis; karena sebenarnya semua orang bisa selama mereka mau.

Jika kau sedang sedih, maka kau akan pandai dalam menulis puisi dan narasi walaupun keahlian mengontrol kata juga diperlukan, paling tidak cobalah untuk menulis.

Saat kau sedang berpikir, kau bisa menuliskan pikiranmu itu sebagai pikiran tokoh fiksi atau curhatan pribadi di blog. Jika ingin lebih baik, tuliskan dengan narasi ilmiah.

Seseorang yang sedang sedih dan tidak memiliki pelampiasan, silakan menulis dan kau harus menulis. Dengan menulis kau bisa berbagi, bisa mengingat dan bisa abadi. Jangan pernah merasa bahwa menulis adalah sesuatu yang tabu seakan-akan mereka yang menulis sebagai orang tanpa kehidupan.

Tidak! Justru mereka berada dalam lingkaran kehidupan dan memahaminya!

Ini hanya tentang memanfaatkan sebuah kondisi, jadi kuharap tidak ada lagi pertanyaan, "mengapa kau bisa sempat menulis saat kau sibuk?"

Maka jawabannya adalah, karena aku sedang sibuk.

Postingan populer dari blog ini

Viola

Book Review - Gila Baca Ala Ulama

Untuk Apa Aku Menulis?