Kuharap, Ini Tidak Menjadi Hal Buruk
HARI ini aku tersenyum, senyum bahagia. Memang sebenarnya tidak ada hal menarik, hariku dipenuhi tugas dan kegiatan yang aku tidak sadar sudah menyita banyak waktuku seharian. Terkadang aku ingin istirahat dan menulis perasaanku yang kebingungan di tengah kesibukan. Aku ingin sekali menulis dan melampiaskan banyak hal. Tapi menulis dan memikirkan kata itu juga butuh waktu khusus. Kurasa menyendiri dan merenung adalah dua hal utama yang diperlukan apabila kau ingin menjadi perasa dan merasakan apa yang sebenarnya kau rasakan. Betapapun pendiam dan mulia orang itu, dia haruslah memberikan waktu khusus dengan diri dan pikirannya sendiri.
Beberapa saat ini aku berpikir sambil menuliskan sebuah surat pendek pada seseorang. Seseorang yang aku banyak belajar darinya. Serumit apapun setiap orang, mereka butuh orang lain sebagai pendengar dan subyek saling berbagi.
Namun, apakah seseorang hanyalah sebuah 'tempat'? Jika memang demikian, kenapa tiap orang harus berhati-hati dalam mengucapkan sebuah kata? Itu karena kita tidak menganggap 'seseorang' sebagai sebuah tempat, tapi sebagai sesama manusia yang memiliki hati. Jadi kata 'tempat' merupakan konotasi yang kurang tepat di sini dan aku menolaknya.
Aku tidak ingin menunjukkan posisi tersulitku pada orang lain. Sebisa mungkin aku menahan sebuah cerita untuk diutarakan. Jika memang terpaksa menceritakannya, aku akan melakukannya dengan sangat hati-hati dan kompleks. Bukankah untuk menunjukkan sisi terendah kita kepada orang lain harus dilakukan dengan hati-hati?
Dia mengenalku sebagai seseorang dengan pandangan yang bagus. Tapi semakin lama dia akan mengenal banyak hal yang tidak dimengerti orang lain yang tidak melihatnya. Bahkan aku sempat berpikir dia akan berkata, "kamu yang aku kenal bukanlah orang seperti ini" dan dia akan meninggalkanku seperti lainnya. Tapi, dia adalah seseorang yang masih bertahan dan membuatku kagum.
Jujur saja, jika aku bertemu diriku yang sangat mirip denganku, aku akan memukulnya dan meneriaki kata-kata buruk padanya. Tapi, bagaimana jika aku bertemu seseorang yang dengan sabar dan senyum tetap membantuku? Pandangan takjub aku berikan padanya!
Sebenarnya aku tidak bermaksud menyembunyikan banyak hal. Aku ingin berkata "aku memang seperti ini", tapi aku takut kehilangan lebih banyak orang karena muak dengan tingkah lakuku. Maka dari itu, hari ini, aku masih melahap perasaan takut dan khawatir itu dalam diriku sendiri. Sebab, jika itu keluar, aku akan kehilangan seseorang lagi.
Hanya satu orang, satu orang yang bisa menemanimu, itu sudah cukup.