Katamu, Aku Hanya Tidak Tahu
JARANG sekali aku menulis saat siang hari, juga sudah cukup lama aku tidak menulis. Sebenarnya tiap malam aku ingin sekali menulis dan melampiaskan banyak perasaan, tapi aku takut jika pikiranku tidak bisa jujur bersama dengan ketikan jariku. Aku merasa ketika ada banyak perasaan yang menjalar, saat itulah kita sulit mengungkapkan sesuatu yang jelas. Maka dari itu aku berusaha sebisa mungkin mengingat berbagai perasaan dan apa yang membuatku sedih agar bisa ditulis waktu aku merasa baikan. Tapi karena hal itulah aku mengalami masalah pada waktu.
Sekarang aku sedang membaca sebuah buku tentang kata-kata dan efeknya pada manusia dan lawan bicara. Kupikir aku memang membutuhkannya karena aku sering kesulitan jika harus mengungkapkan sesuatu. Dari bacaan ini aku menyimpulkan, kata-kata adalah sebuah bentuk yang tidak memiliki makna, tapi sebuah hubungan antarmanusia yang memberinya sebuah makna dan arti. Terkadang kita menangkap sebuah kata-kata yang sama dari orang yang berbeda dan mengartikan kata-kata tersebut dengan cara yang berbeda juga. Waktu aku membaca semisalnya, aku mengingat betapa seringnya aku salah memahami dan salah dipahami. Terkadang aku merasa kesal waktu aku disalahpahami. Tapi di sisi lain aku sering salah paham pada perkataan orang lain dan berlagak tidak peka di hadapan mereka.
Jika boleh jujur, tanpa diungkapkan sekalipun aku mengerti dari tatapan seseorang, dari sikap dan bagaimana dia menjaga jarak dalam ucapannya. Tapi aku selalu berlagak tidak tahu karena sebuah kata-kata.
Waktu aku masih duduk di bangku sekolah pertama, aku sering berspekulasi tentang ucapan orang lain. Tentu tidak semuanya benar, tapi kebanyakan adalah hal yang benar dan aku mengungkapkannya dengan jelas di hadapannya langsung. Waktu itu temanku seperti menyembunyikan sesuatu dan tidak ada yang menyadarinya, di sini yang kumaksud adalah tentang perasaannya. Dia seperti memendam sesuatu dan dari kata-katanya dia menahan apa yang mau diungkapkan. Maka aku langsung berniat memintanya mengatakannya dengan wajah yang polos dan penasaran. "Hah? Jangan sok tahu." Aku tahu dia sebenarnya ingin melindungi dirinya sendiri. Tapi karena perkataan itu aku jadi tidak pernah menanyakan perasaan orang lain. Terkadang saat mendengarkan cerita orang lain, aku ingin menanyakan dan berbagi pendapat dengannya. Tapi saat aku ingin mengungkapkan banyak hal, bayangan tentang teman lamaku dan perkataannya selalu muncul di kepalaku kemudian aku menarik lagi niatku.
Itu adalah sebuah hal yang disebabkan oleh kata-kata. Walaupun temanku sudah meminta maaf dan tidak bermaksud menuduhku, tapi karena dia memang ragu untuk mengungkapkannya karena malu, tapi bekas dari kata-kata itu tidak pernah hilang.
Aku tidak pernah dendam pada siapapun, bahkan jika seandainya aku dibuang dan dicampakkan, aku tidak pernah membenci siapapun. Tapi, aku akan menahannya dan mendapat efek jangka panjang.
Kuharap, untuk diriku sendiri, aku bisa mengatakan banyak hal tanpa takut karena kata-kata.