Jadi, Bagaimana?

 


SEBUAH kata-kata adalah cerminan dari perasaan seseorang. Kata-kata yang terucap atau terkirim sudah melalui berbagai perasaan dan timbangan moral yang dalam. Bahkan cenderung lama. Hari ini aku menghubungi seseorang yang sudah sejak dua tahun lalu ingin aku hubungi, tetapi aku tidak memiliki sebuah keberanian untuk melakukan itu. Berujung pada sebuah waktu aku akhirnya memutuskan untuk memberanikan diri setelah banyak hal terjadi: tangis, sedih dan muak orang-orang yang mendengar ceritaku dan bagaimana pikiranku.

Aku merangkai berbagai kalimat dengan mudah dan terkesan berantakan karena perasaanku juga berantakan. Dalam tulisan itu aku melampiaskan harapan dan perasaanku. Tapi aku tidak mendapatkan respon sama sekali.

Itu menyakitkan, karena kata-kata ditujukan untuk dibaca dan dipahami, tapi saat kata-kata itu didiamkan, maka perasaan itu ikut diam dan membeku. Tapi bagaimanapun aku tidak bisa memaksa seseorang untuk membalas pesanku.

Aku memiliki sebuah prinsip, bagaimanapun aku membenci atau menjauhi seseorang, aku tidak akan pernah mendiamkan pesan dan perasaannya. Ini bukan bentuk egoisme, tapi sesuatu yang lebih dalam dari itu. Mencurahkan perasaan itu memerlukan keberanian yang besar dan seseorang akan merasa marah, sedih atau kecewa saat akan mengungkapkannya. Belum lagi keberanian untuk mengungkapkan dan segala resikonya sudah dia persiapkan jauh-jauh hari. Jadi,

Bukankah usaha itu pantas untuk mendapatkan respon yang baik?

Aku tidak marah, aku hanya memikirkan bagaimana sebuah perasaan bisa dimainkan begitu mudahnya hanya karena hal-hal kecil. Bagaimana sebuah kata yang ditulis atau sebuah kalimat yang dirangkai didiamkan begitu saja tanpa dibaca. Sungguh, aku lebih sakit hati memikirkan itu.

Kuharap, siapapun yang membaca ini, kau bisa menghargai bagaimana perasaan orang di sekitarmu. Sekecil apapun itu, aku berharap itu bisa tersampaikan dengan jelas.

Siapapun kamu, ketahuilah, tiap manusia itu memiliki hati, hati yang tulus di dalam dirinya.

Postingan populer dari blog ini

Viola

Book Review - Gila Baca Ala Ulama

Untuk Apa Aku Menulis?