Sifat ini, apa ya?
BELAKANGAN ini emosiku mencapai titik dimana aku sudah lama tidak mencapai titik ini. Karena lama tidak merasakannya, aku tidak tahu apa yang mesti kulakukan. Beberapa cara yang biasanya kugunakan untuk menenangkan hatiku sama sekali tidak bekerja untuk saat ini, malah memberikan efek yang jauh lebih buruk dan membuatku enggan berkata apa-apa. Apa yang mesti kulakukan? Di satu sisi aku tidak ingin merepotkan siapapun atau merusak perasaan siapapun saat aku sedang merasa pada titik ini, tapi aku juga tidak bisa menahan perasaan ini tetap berada di dalam. Dalam beberapa situasi, sebuah perasaan bisa menjadi momok bagi empunya, dan itu adalah hal yang menyulitkan.
Kurasa dalam keadaan semacam ini aku seperti ditodong oleh emosiku sendiri. Aku harus menahannya tapi di sisi lain aku sudah kalah. Harapan? Entah bagaimana aku harus bersikap pada keadaan semacam ini. Mungkin jarang sekali aku menuliskan sesuatu yang cukup menyulitkan di blog ini, tapi jujur saja, saat aku menulis ini aku dipenuhi berbagai imajinasi buruk dan kata-kata makian yang bahkan belum pernah kuucapkan sama sekali. Jadi kau bisa mengerti bagaimana aku sudah berusaha menahannya.
Apakah menahan emosi negatif adalah sebuah beban? Dengan lantang kukatakan, YA! Lalu, mengapa aku tidak melampiaskannya? Karena aku manusia. Aku memiliki hati dan aku memiliki pikiran yang walaupun tidak pintar, aku bisa memahami orang lain. Cukup menyakitkan jika kau menjadi target emosi seseorang padahal kau berusaha bersikap baik padanya, jadi bagaimanapun keadaan emosiku, aku tidak ingin merusak perasaan orang lain karena keegoisanku. Belakangan ini aku sering membawa bahwa seseorang itu harus egois dan jangan terlalu peduli pada orang lain. Ah, aku berbaik sangka saja, barangkali dia adalah gigolo yang tidak perlu bersosialisasi.
Jadi, sama denganku, untuk kalian yang sering merasakan emosi meluap-luap karena hal kecil atau beberapa hal absurd yang tiba-tiba membuatmu emosi; walaupun kalah dengan emosimu, jangan pernah menyerah dan melampiaskannya begitu saja. Aku tidak tahu apakah integrtitasku adalah sesuatu yang konservatif, tapi aku menerapkan sebuah kalimat yang menjadi pokok sikapku,
Bersikaplah sebagaimana kau ingin orang lain bersikap.
Jadi, untuk kalian, orang-orang pemikir dan peduli, orang-orang baik yang tidak ingin menyakiti orang lain, kalian akan tetap melawan diri kalian masing-masing. Di saat yang sama kalian harus berinteraksi dengan orang lain.
Bagaimanapun emosi itu kau rasakan, kau masih bisa menangis dalam kesendirian kamar dan kegelapan malam bertabur bintang cerah. Aku yakin, kau akan segera bersahabat dengan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari dirimu.