Candu - Aruna Areva

 


“KAU sudah benar-benar kecanduan, lebih baik kau hentikan kebiasaan menjijikkanmu itu!” Yuzu melotot padaku dengan amarah yang bisa kurasakan. Dalam matanya terbesit sebuah perasaan yang lebih buruk dari kebencian. Enyah kau, bentakku. Aku kembali meneguk beberapa tegukan minuman keras yang hampir kuhabiskan dalam satu waktu. Tidak meminum minuman surgawi semacam ini sehari membuat perutku terasa dicekik oleh bagian perut itu sendiri. Aku tidak bisa melakukan apa-apa dan enggan melakukan apapun. Rasanya, dalam diriku yang kuinginkan adalah bersantai tanpa sebuah pekerjaan dan kegiatan. Hal yang paling kubenci adalah mencari pekerjaan dan aku tidak akan menyerah dalal hal ini. Berada di rumah dan diam di sana selamanya. Namun seperti halnya makhluk sosial lainnya aku juga butuh uang untuk menghidupi diriku sendiri dan membeli minuman keras. Apalagi beberapa bulan belakangan ini aku juga mencoba beberapa obat-obatan dan mulai sedikit kecanduan. Sabu, kokain dan bahkan heroin. Aku mengetahui efek sakit dan menyiksa yang dihasilkan oleh apa yang kumasukkan dalam diriku, namun berpikir tentang hal itu benar-benar percuma. Rasanya aku tidak peduli pada diriku sendiri di masa depan atau apa yang akan terjadi. Aku hanya memikirkan tentang sekarang bahwa aku harus minum minuman keras dan memakai obat-obatan untuk terus hidup.

Aku berpacaran dengan Yuzu sudah hampir tiga bulan dan kami tinggal bersama di sebuah rumah yang kami sewa dengan harga murah. Awalnya, Yuzu tidak peduli pada kebiasaan dan bagaimana pemikiranku –paling tidak itu yang terjadi selama sebulan setelah kami tinggal bersama. Semua masalah muncul saat dia mengetahui bahwa aku memakai obat-obatan. Sebisa mungkin aku sudah menahan memakai narkoba sejak berpacaran dengannya dulu. Namun rasanya, diriku memaki diriku yang lainnya dengan sangat hebat. Ketidakmampuanku menahan hasrat untuk memakai narkoba adalah hal yang paling aku sesali selama ini. Tapi saat aku sudah memakainya, aku bersyukur pada diriku sendiri karena mempunyai hasrat yang begitu besar memakai narkoba. Mungkin itu satu-satunya hal yang bisa kusebut ‘hasrat’ dalam diriku. Hampir-hampir tidak ada hasrat lain yang kumiliki dalam menjalani sebuah kehidupan –aku tidak akan membantah bila aku disebut sebagai orang yang tidak berguna –karena itulah faktanya. Aku bahkan memaki diriku sendiri dalam kesepian sebagai manusia rendahan yang gagal menjadi makhluk sosial.

Yuzu mengetahui keenggananku dalam berkontribusi dalam masyarakat ataupun bekerja. Sebenarnya aku juga sedang berkuliah di salah satu universitas seni di kota sebelum kami pindah ke rumah sewa ini. Tapi setelah satu tahun aku kuliah akhirnya aku berhenti untuk datang. Aku berpikir untuk enggan terikat pada aturan atau prinsip yang melandasi dunia ini. Bahkan saat aku SD aku pernah berpikir untuk tidak menaati ayahku karena menganggapnya sebagai bentuk patriarki terhadap anak kecil dan keluarga. Perasaan menolak seperti itu sudah kumiliki bahkan sebelum aku mengetahui tentang perasaan seperti itu. Tapi aku –dan Yuzu tidak dapat hidup hanya dengan jatah perbulan dariku saja. Akhirnya dia memutuskan untuk bekerja. Aku tidak memaksanya atau menyarankannya. Hal itu muncul dari dalam dirinya sendiri sebagai bentuk pembelaan terhadap ketidak bergunaanku. “Ini bukan salahmu, sungguh. Aku hanya akan bekerja sementara dan kau bisa tetap di rumah saja. Aku tahu kau memiliki sebuah keistimewaan dan hal itu akan segera muncul bagaimana caranya.” Katanya waktu itu. Hatiku terasa sangat pedih membayangkan bahwa Yuzu menyangka aku istimewa dalam sebuah hal; memiliki sebuah bakat yang belum muncul ke permukaan dan berpikir bahwa bakat itu akan muncul saat aku benar-benar menginginkan bakat itu muncul.

Yuzu bekerja di sebuah hotel bagian resepsionis. Aku tidak terlalu tahu apakah itu hotel biasa atau hotel cinta. Bahkan dalam mengajukan pertanyaan pun aku tidak memiliki keinginan sama sekali. Cukup bagiku mengetahui bahwa Yuzu sedang bekerja dan membuat hatiku tenang. Namun saat sore hari hingga pagi –saat Yuzu bekerja di hotel itu, rasanya aku merasakan sebuah perasaan cemburu yang dalam, mungkin perasaan itu tidak bisa disebut kecemburuan karena terlalu menyala untuk hal kotor semacam itu. Berpikir bahwa ada seorang laki-laki yang akan merangkul pundaknya atau meraba pahanya benar-benar membuatku murka di depan minuman-minuman ini. Rasanya aku ingin segera menyusulnya ke hotel dan menjemputnya untuk pulang ke rumah, tapi bagaimana aku melakukannya, aku bahkan tidak tahu dia bekerja di hotel mana. Di kota ini saja mungkin ada lebih dari lima puluh hotel dan bisa jadi dia bekerja di hotel kota lain.

Saat memikirkan hal-hal semacam itu aku tidak bisa tidur semalaman. Bahkan saat Yuzu pulang dan menemuiku dalam keadaan yang benar-benar menghinakan, aku tidak merasakan perasaan apapun selain kegembiraan bahwa dia sudah pulang. “Kau kelihatan berantakan, apa kau minum-minum semalaman? Kau bahkan terlihat lebih buruk daripada seonggok jenazah dua bulan. Tidurlah, akan kutemani di kamar.” Lalu dia akan menuntunku dan seperti menidurkanku layaknya anak kecil dalam pangkuan ibunya dengan manja.

Beberapa malam berikutnya, aku menjumpai sebuah parfum Dior Sauvage Eau de Parfume di meja rias Yuzu. Baunya tidak seperti bau parfum Yuzu yang cium waktu berhubungan dengannya. Aku berpikir jika ada seorang pria kaya di hotel itu dan memberikan Yuzu parfum ini agar digunakan saat berhubungan dengannya. Aku membayangkan tubuh mulus Yuzu diraba oleh pria lain di atas ranjang, dipeluk dengan erat dan berteriak mengerang karena berhubungan. Memikirkan hal seperti itu membuat amarahku jauh lebih besar daripada yang pernah kurasakan sebelumnya. Aku pergi ke lemari tempatku menyimpan minuman dan meminumnya hingga tandas waktu itu juga, dan aku kembali menggunakan heroin. Bisa dibilang bahwa heroin adalah ratunya obatan keras. Menggunakannya selama dua atau tiga bulan setiap hari bisa membuat perutmu terasa terbakar dan benar-benar tersiksa. Namun memikirkan kenikmatan yang akan diberikan pada waktu mencobanya adalah hal yang menggairahkan. Aku mengakalinya dengan menggunakannya seminggu dan berhenti seminggu, sungguh benar-benar cara yang licik. Pada seminggu kekosonganku tidak menggunakan heroin, biasanya aku melarikan diri untuk menghisap sabu. Dalam hal ini Yuzu pernah ikut untuk menghisap sabu. Beberapa hisapan sudah membuat wajah kami memerah dan melantur berbagai hal, kemudian saling berpelukan di atas ranjang sampai pagi. Berbagai sensasi seperti itulah yang kucari sebagai manusia –sebagai makhluk sosial yang kukenal. Melampiaskan segala emosi dengan bebas tanpa aturan. Memakai obat untuk kenikmatan dan bercinta semalaman, memikirkannya saja sudah membuat tubuhku gemetar hebat.

Saat Yuzu pulang, kemarahan masih tampak pada tubuhku, dia melihat beberapa bungkus serbuk heroin di depanku. Aku menatapnya dengan tatapan sinis penuh kecurigaan; kecurigaan yang mengerikan tentang wanita jalang ini. Dia hanya melihatku dengan sebuah ekspresi tidak percaya penuh emosi, aku melihat matanya yang menatap diriku seperti setan yang baru keluar dari dasar terdalam neraka. Aku duduk di sofa yang terasa cukup keras dan mendongakkan kepalaku ke atas. Yuzu masih diam di ambang pintu tanpa bergerak sedikitpun dari tadi. Aku menyuruhnya duduk di depanku dan dia duduk seperti anjing kecil memohon pada tuannya.

“Jilat ini!” aku menyodorkan kakiku yang tampak beberapa jari kuku mencuat dari sana. Dia langsung memalingkan pandangannya dan memejamkan mata. Sontak seluruh emosi yang ingin kutenggelamkan langsung muncul seketika, aku menendang bahunya dengan sangat keras, “dasar jalang!” Teriakku.

Aku keluar dari rumah itu dan berjalan tanpa tujuan dengan cukup sempoyongan. Rasanya obat-obatan dan minuman keras tidak berpengaruh padaku. Aku banyak menimbun obat-obatan dan menjualnya kembali untuk obat-obatan yang memberikan efek lebih besar; seperti heroin. Sejenis kokain atau smack hampir-hampir tidak terasa lagi untukku. Segala yang kujalani terasa seperti kegagalan dan segala yang kusentuh terasa seperti sampah. Hal-hal itu sebagai wujud ketidakberunaanku dalam segala aspek. Aku duduk di sebuah bangku dekat stasiun sebentar dan berpikir berapa banyak orang berusia dua puluh tahun yang jatuh serendah dan sedalam ini sepertiku. Bagaimana mereka melewati hari-hari sepi dan panas karena obat-obatan. Rasanya benar kata orang-orang jalang bahwa dunia ini adalah neraka. Aku berpikir bahwa sudah tidak ada keburukan yang lebih besar daripada keburukan di dunia. Rasanya aku ingin segera menyerah dari hidup dan pergi begitu saja, tapi bahkan aku tidak tahu harus menyerah dari apa dan bagaimana. Aku rasa aku tidak bisa menyerah begitu saja; karena menyerah berarti menerima segala keburukan. Aku tetap tidak ingin bekerja, kuliah, atau mengisi paruh waktu dengan bakti masyarakat. Menyerah dari hal-hal semacam itu berarti menerima segala keburukan dengan tangan terbuka. Aku tersenyum memikirkan hal itu dengan seringai heroin di wajahku.

Obat-obatan keras jauh lebih buruk daripada alkohol; saat kau menyadarinya itu sudah terlambat, perutmu akan terasa sangat panas dan beberapa organ dalammu terasa seperti diperas sampai kering. Perutmu tidak akan bekerja seperti seharusnya dan akan membuatmu menjadi seorang pecandu yang jauh lebih buruk dari mereka yang hanya mengonsumsi minuman keras. Aku sudah jatuh pada tahap terburuk dari kecanduan. Rasanya aku tidak mampu bernapas hanya dengan udara bersih, harus ada aroma alkohol atau obat-obatan dari apa yang aku hirup. Bahkan mungkin diiriku sendiri sudah mengeluarkan bau obat yang menyengat. Aku tidak mempermasalahkan banyak hal, bahkan hampir-hampir aku merasa tidak memiliki harga diri. Aku tidak punya sebuah kesadaran yang bisa membawaku pada pengetahuan akan diri sendiri. Melihat mereka dengan sebuah harga diri tinggi membuatku ingin muntah. Mereka selalu membuktikan bahwa mereka bisa dan menjadi terbaik, mempertahankan harga dirinya di atas orang lain. Membosankan. Kehidupan mereka tak lain hanyalah gurauan di atas pengalaman orang lain.

Orang-orang yang sebelumnya tidak peduli pada harga diri tidak tahan melihat orang seperti itu, mereka bisa saja ikut pada arus busuk harga diri masyarakat. Mereka yang seperti ini menandakan orang-orang yang sangat mudah dipengaruhi. Mereka tidak bisa berpikir dengan dirinya sendiri. Sejak awal aku membenci mencari pekerjaan karena itu adalah salah satu arus yang akan membawaku pada keburukan persaingan harga diri dalam masyarakat kontemporer. Aku membayangkan diriku kembali ke zaman tradisionalis tanpa memikirkan banyak hal yang kompleks seperti saat ini. Mungkin hal-hal itu akan sangat menyenangkan bila aku bisa merasakannya dengan tenang.

Aku berpikir untuk kembali ke rumah mantan pacarku dulu yang sempat aku tinggalkan karena Yuzu. Sebenarnya hubungan kami sangat baik-baik saja. Dia seorang wanita cantik yang maniak seks. Aku hampir dibuatnya seperti tubuh tak bertenaga tiap bercinta dengannya. Dia bekerja dari Senin sampai Jum’at dan menghabiskan Sabtu dan Minggu di atas ranjang bersama. Pernah kami selama dua hari hanya berada di atas kasur bersama. Aku tidak bisa ingat apa yang kami lakukan waktu itu. Tidak ada hasrat bercinta dan kami saling berpelukan selama beberapa waktu dengan tenang. Dan bila tenagaku sudah kembali maka dia akan langsung mengahjarku habis-habisan. Mungkin selama dia menindihku hampir lebih dari tujuh kali dia akan berkata, “aku benar-benar seperti orang kesurupan,” dan melengkuh kenikmatan. Aku berjalan pelan menuju ke stasiun untuk ke tempat mantan pacarku. Kuharap dia masih sendiri dan aku akan disambut dengan hangat di sana. Meninggalkannya dan memilih Yuzu adalah pilihan yang salah.

Aku akan kembali.


Postingan populer dari blog ini

Viola

Book Review - Gila Baca Ala Ulama

Untuk Apa Aku Menulis?