Lalu, Aku Berada Dalam Bayangan
KETIKA kita berada dalam sebuah kesulitan, terkadang kita merasa kesulitan yang kita rasakan jauh lebih berat daripada orang lain. Kurasa itu bukanlah sesuatu yang egois. Aku kembali membaca beberapa tulisanku termasuk beberapa cerita pendek dengan gaya penulisan yang kelam. Dari waktu itu, sampai sekarang, gaya penulisan yang ingin aku ubah masih saja tidak bisa berubah. Mungkin memang tulisan semacam itulah yang muncul dari sudut terdalam di hatiku.
Aku merasa, tetap saja, tulisanku terasa gelap. Aku berpikir mengapa hal semacam itu bisa terjadi. Tapi kurasa salah satu penyebabnya adalah kondisi saat aku menuliskannya. Jika kupikir-pikir lagi aku hampir tidak pernah menuliskan sesuatu saat suasana hatiku sedang menyenangkan. Aku menulis saat suasana hatiku sedang berat dan kelam. Mungkin ini karena sebuah luka? Aku pernah membaca tulisan jika seseorang cenderung menekan luka dalam hati mereka saat luka itu sudah terlalu dalam.
Kebanyakan orang menyarankanku agar menulis saat aku bahagia atau menulis dengan perasaan yang bahagia. Tapi aku tidak pernah berhasil melakukannya. Saat aku memikirkan hal-hal yang bahagia, aku merasa tidak bisa menulis apapun. Namun saat aku merasa benar-benar lelah dan ingin berteriak, segala hal yang bisa dituliskan muncul di kepalaku dan bisa menghilang kapan saja. Jadi aku bukannya tidak mau, tapi memang hanya itu yang aku bisa.
Tapi apakah menulis dengan perasaan bahagia bisa dilakukan dengan latihan? Jika memang bisa, kurasa aku akan mencobanya sebisa mungkin. Aku ingin berpikir baik dan menuliskan hal-hal yang baik.
Aku tidak mau berada dalam kegelapan pikiran.
Tapi aku tetap ingin bertindak secara alami.