Hatiku Tidak Berada Di Tanganku
AKU merasa cukup lelah belakangan ini dengan pikiranku sendiri. Bisa dibilang aku mempunyai tingkat khawatir yang tinggi dan segala pikiran buruk di pundakku. Terkadang aku menghempaskannya tapi aku bisa mengingatnya dengan cepat. Apakah aku lelah dengan diriku sendiri? Iya. Apakah aku selesai? Tidak.
Aku memandang sebuah kelelahan sebagai bagian dari kehidupan dengan banyak perasaan. Dan lelah adalah perasaan yang menghiasinya. Mungkin beberapa orang berpikir bahwa rasa lelah adalah pengganggu dan penghambat, tapi aku berpikir bahwa rasa lelah adalah sesuatu yang membuat kita menjadi utuh sebagai manusia.
Aku pernah membayangkan apa jadinya jika seseorang hidup sangat sempurna tanpa rasa lelah, apakah dia akan bekerja sepanjang waktu dan berpikir untuk merevolusi hukum newton? Kurasa hal semacam itu cukup menyeramkan. Jadi jangan jadikan lelahmu sebagai sesuatu yang menghambat, tapi sebagai sesuatu yang bisa kau kenang. Akan ada saatnya momen untuk dirimu bersantai datang, tapi pada saat itulah kau akan berpikir bahwa lebih baik sibuk daripada bersantai. Dipungkiri atau tidak walau aku cukup membenci efek lelah secara mental, aku lebih memilih lelah karena kesibukan daripada lelah karena tidak melakukan apa-apa.
Tapi, apakah aku pantas dengan kelelahan itu? Sebuah pikiran lain muncul. Mungkin saja aku pantas menurut pandangan dan perkiraan orang lain, tapi kurasa aku tidak pantas untuk itu. Fisikku lemah dan mudah terserang demam jika kelelahan sedikit saja, juga aku selalu merasa kedinginan apalagi jika aku sudah dihadapkan pada pekerjaan. Ada sebuah pepatah bahwa "orang yang tangannya dingin maka dia berhati hangat". Kupikir itu benar, tapi hati yang hangat tidak bisa meredakan dinginnya tangan.
Saat inipun, aku berharap aku sudah melakukan sesuatu yang kuinginkan, sesuatu yang memang ingin kucapai. Karena jika benar begitu, maka aku akan merasa pantas untuk kelelahan sampai akhir. Aku tidak masalah untuk semua perasaan, tapi aku selalu merasa tidak pantas untuk merasakannya.