Sesuatu yang Teringat, Dari Dasar Kebiasaan
JIKA kupikir lebih dalam, hidupku cukup berantakan. Aku tidak tahu ini semua berawal darimana, tapi hidupku yang berantakan inilah yang membuatku cukup berpikir bahwa aku tidak bisa melakukan banyak hal. Hidup dengan asal, gegabah, juga penuh dengan delusi yang terus aku keluarkan setiap waktu.
Kau tahu? Sebenarnya aku benar-benar sadar bahwa kau sudah tiada. Tapi delusi itulah yang membuatku merasa bahwa kau tetap ada bersamaku sampai sekarang. Mungkin karena itulah aku pantas dikatakan sebagai keras kepala ataupun egois.
Aku benar-benar mengingat berbagai hal dengan baik walaupun aku akan mengatakan jika aku sudah melupakannya. Waktu itu aku selalu berpikir bahwa sesuatu yang sangat dekat denganku tidak akan pernah bisa hilang bagaimanapun caranya, mengingat kedekatan waktu itu, aku yakin aku benar-benar bodoh karena melupakan sebuah konsep yang paling sederhana. Kamu akan menjadi bekas luka terdalam dan yang bersisa bagiku dan aku akan meminta maaf padamu setiap hari.
Mungkin seseorang yang membaca ini akan berkomentar, "bukankah lebih baik kau lupakan saja?" Tapi melupakan tidak semudah itu bagi kebanyakan orang. Kebiasaan terbentuk karena seseorang menjadi ingatan yang dalam. Mungkin lebih mudah jika dianalogikan dengan kata-kata yang tidak sengaja terucap dari seseorang dan membuat kita terus mengingatnya padahal dia sudah melupakannya, mungkin seperti itu. Jadi melupakan sesuatu tidak semudah membuang ampas kopi dari dasar gelas. Maka aku memutuskan untuk tidak mengubah kebiasaanku setelah tidak bersamanya.
Ini dikarenakan sebuah alasan, karena aku tahu, bahwa 'melupakanmu' akan kembali membuatku mengingatmu kembali.
