Revolusi Kebencian
SEIRING berjalannya usia aku merasa bahwa hal paling cerdas yang bisa dilakukan adalah bersikap mayoritas dan tidak memandang pada diri sendiri. Maka dari itu sikap-sikap yang muncul dewasa kini adalah sikap tidak tahu diri dan melupakan karakter kita sebenarnya. Saat kita mendengar, melihat dan berpikir tentang banyak hal, saat itulah kita merasa bahwa lebih baik untuk melakukan hal-hal yang bisa dilakukan semua orang tanpa mengunggulkan diri sendiri.
Kurasa, itulah awal dari kebohongan pada diri sendiri. Lalu apakah ada orang yang tidak pernah berbohong? Kurasa orang sesuci itu tidak akan hidup di dunia yang pada dasarnya berisi kebohongan ini dan pastilah dia seorang yang tertolak. Aku juga seperti itu. Terkadang aku terlalu banyak berceloteh dan mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin kukatakan, maka kalimat penuh kebohongan akan bertumpuk dan siap menimpaku kapanpun. Sebuah kebohongan yang sebenarnya sangat mudah dibongkar hanya dengan sedikit usaha.
Tapi inti dari keburukanku adalah aku merasa aku melakukan kebohongan itu demi keuntunganku sendiri, bukan karena terpaksa. Aku membencinya. Aku mengharapkan adanya sebuah revolusi kecil pada diriku sendiri, revolusi emosi dan moral. Sebuah revolusi menuju gaya lama dan bergumul dengan moralitas tradisional. Dengan tangisan dan korban baru.
Revolusi di mana aku mengubah perasaanku menjadi lebih simpati menuju arah yang lebih baik. Perasaan simpati selama ini lebih kuarahkan pada diriku sendiri. Bisa dibilang kalimat itu hanyalah penenang dengan kehalusan munafik. Aku mengasihani diriku sendiri. Aku merasa harus melakukan sesuatu, tetapi aku bahkan tidak mengetahui di mana letak kesalahan pada diriku.
Kritik pada diri sendiri sama sekali tidak berguna. Aku akan menghakimi dan mencela diriku sendiri hingga ke dalam sifat-sifat negatif yang kumiliki, lalu berakhir dengan mengasihani diriku sendiri. Kemudian aku melupakan semuanya.
Walaupun aku tahu, mengkritik diri sendiri itu menyedihkan.
Alangkah baiknya aku tidak memikirkan apapun sama sekali.
