Pemenang Tanpa Mahkota
AKU membayangkan tentang masa lalu, tentang berbagai hal yang menjadi sebuah tanggungan moral untukku. "Bagaimana seandainya waktu itu aku mengatakannya?" atau "bagaimana jika aku tidak berkata seperti itu ke orang itu?" Aku berpikir tentang berbagai kemungkinan, tapi semuanya berujung pada satu titik: aku menyesali diriku sendiri.
Aku menyesali kebodohan dan kepolosanku. Saat aku tidak mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, aku menyesali waktu-waktu seperti itu. Seharusnya semuanya sudah jelas, tapi karena kebodohanku itulah semuanya menjadi samar dan akhirnya membuat orang lain kesusahan. Mungkin inilah yang membentuk diriku menjadi seperti sekarang. Aku tidak tahu ini sebuah keahlian yang patut dibanggakan atau tidak, tapi aku tidak tahu bagaimana menggunakannya.
Pada intinya, satu-satunya keahlian spesifikku adalah menggores hati orang lain. Seperti sebuah bola lampu yang bisa melihat dengan jelas bayangan orang lain dan bermain dengannya, terkadang aku menikmatinya. Aku menyukai saat aku bisa menggoyahkan keinginan mereka, membuat mereka bingung bahkan hancur dalam pikiran terdalam mereka, itu cukup menghiburku.
Sungguh kehidupan yang buruk. Tapi, tak ada apapun yang bisa kulakukan selain tersenyum pahit. Dasar manusia itu! Memang mereka tidak pernah berusaha memahami satu sama lain.
