Kukembalikan Semangat Itu
SEMAKIN lama aku semakin sadar, bahwa aku membenci kata 'semangat'. Jika aku mendengar kata itu masuk pada sebuah kalimat dan terarah padaku, aku merasa muak karena kalimat itu. Memang, terkadang aku merasa sangat sedih dan satu-satunya hal yang dipikirkan orang lain sebagai sebuah bentuk empati adalah ucapan semangat. Saat mendapat kalimat seperti itu, aku akan bertindak sealami mungkin layaknya hubungan antar manusia sebagai makhluk sosial dan menjaga tiap perasaan orang lain.
Sebenarnya, aku tidak berniat maju atau menjadi terdepan dalam segalanya. Aku sama sekali tidak berminat untuk menaikkan daguku dan membusungkan dadaku sebagai bentuk kepercayaan diri. Aku hanya berpikir bahwa aku hanya perlu menunjukkan apa yang ingin aku tunjukkan dan bertindak sesuai apa yang ingin kulakukan. Kebebasan semacam itu.
Tapi beberapa orang tidak memahaminya. Mereka berpikir aku mampu melangkah lebih jauh lagi dan terus berusaha dengan mengucapkan kata 'semangat'. Awalnya aku merasa itu sebuah dukungan, tapi semakin lama aku merasa itu adalah sebuah racun. Dalam kalimat itu terkandung sebuah harapan bagi orang lain dan racun jika tidak bisa memenuhi ekspektasi tersebut. Kata-kata itu bisa meninggalkan sebuah goresan luka bagi mereka yang sudah lelah dengan segala hal. Mereka yang terpuruk dan terdekadensi -aku rasa mereka akan sangat marah jika diucapkan kata semacam itu demi diri mereka.
Kata 'semangat' juga mengandung sebuah niat untuk merubah orang lain. Tapi harapan perubahan itulah yang menjadi sebuah masalah besar, harapan itu bisa menjadi beban baru. Saat kita berharap 'orang itu akan segera berubah' atau 'semoga orang itu berubah menjadi lebih baik', sesungguhnya kita memberikan sebuah beban besar padanya sebagai tanggungan moral.
Yang ingin kukatakan, semua energi positif tidak akan tetap menjadi positif. Kata itu hanya akan sesuai makna bila pikiran orang lain tetap positif. Tapi bagi mereka yang mengalami dekadensi, dalam pikiran mereka adalah kegelapan. Kata positif yang kau ucapkan hanyalah menjadi amarah dan sampah untuk pikiran mereka.
Jika kau memandang tulisanku ini benar, maka kukira kau salah satu orang yang terpuruk.
