Kelopak Bunga yang Jatuh

 


BISA dibilang, sesuatu yang menjadi sebuah hobi secara spesifik bagiku adalah membaca buku. Aku merasakan sebuah emosi yang sama jika seandainya buku adalah sebuah makhluk hidup dengan sebuah hati dalam diri mereka. Berapa lama pun aku membiarkan buku itu tergeletak, dia akan tetap berada di sana, menungguku menggenggamnya dengan penuh kesadaran dan membaca serta memahami seluruh isinya. Aku merasa iri.

Terkadang aku menyamakan manusia dengan buku. Tapi berapa lama pun aku berpikir, aku selalu mendapat kesimpulan bahwa buku lebih baik daripada manusia. Buku -walaupun sobek, ditinggalkan dan tidak pernah dihiraukan, dia tidak akan pernah berubah. Walaupun aku menggarisinya dengan kasar atau menempelkan kotoran di tiap halamannya, dia tidak pernah marah padaku. Tetap dengan perasaan hangat di dalamnya dan kesetiaan yang mencengangkan.

Mungkin itu perbedaan tentang hati.

Aku tidak memandang keduanya berbeda karena hidup atau tidak; benda atau manusia. Tapi aku lebih memandang pada sebuah hati pada dua hal itu. Kurasa jika buku juga mempunyai hati, dia akan bersikap sama egoisnya seperti manusia, yang akan meninggalkanmu dengan mudah saat kau berpaling.

Jadi, aku juga mencari buku sesuai dengan kehangatan di dalamnya. Aku mencari sesuai dengan situasi dan keadaanku saat itu. Mungkin ini bisa disebut sebuah pelarian. Saat aku menemukan sebuah buku yang bisa menggambarkan emosiku dengan tepat, aku akan mengasimilasinya, mencontohnya dan menirukan apa yang ada di dalamnya. Tiap tokoh adalah jiwa, tiap kalimat adalah kepingan. Aku merasa aku berkebutuhan dalam mencontoh apa yang aku baca. Terkadang aku khawatir apabila aku tidak mendapatkan sesuatu untuk dicontoh.

Sungguh, semakin lama aku tidak tahu mana diriku yang sebenarnya. Apa yang akan kulakukan jika tidak ada lagi buku yang dibaca, atau tokoh yang bisa aku tiru? Mungkin aku hanya bisa diam, menangis dan tidak punya pendirian. 

Layu dan tidak berdaya.

Postingan populer dari blog ini

Viola

Book Review - Gila Baca Ala Ulama

Untuk Apa Aku Menulis?