Egois Adalah Sinonim Dari Simpati
AKU akan mengungkapkan sebuah pemikiranku yang menurutku akan ditolak banyak orang dalam hal etika.
Ketika yang tersisa dalam diri seseorang adalah untuk bertahan hidup, bagaimanapun caranya, ketika yang tersisa dari seseorang adalah perjuangan untuk mempertahankan hidupnya dibanding hal lainnya, saat sebuah kehidupan terasa lebih menyakitkan daripada sebuah kematian, aku pikir aku akan cukup menghormati keputusan orang itu untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Bukan karena aku ingin membelanya, tapi karena aku hanya punya simpati untuk dirinya. Aku tidak bisa membantunya dalam menyelesaikan masalahnya dan berkata, "jangan lakukan itu, semua akan baik-baik saja." Lantas, bukankah aku harus bertanggung jawab atas apa yang akan terjadi?
Karena aku rasa, simpati manusia kebanyakan hanya terpancar dari mata mereka. Sedikit di antara mereka yang mencapai sebuah tindakan untuk menolong kehidupan orang lain. Malah terkadang menghakimi kehidupan mereka. Banyak orang memilih memperlakukan mereka yang ingin bunuh diri layaknya seorang penjahat, banyak yang menyalahkan mereka karena tertinggal dan tidak bisa bertahan dalam kerasnya alur masyarakat. Maka terpikir olehku:
Apakah bertahan hidup sampai akhir adalah sebuah kemenangan? Sejak awal, apakah ada menang dan kalah dalam hidup?
Aku ingin mengatakan kalau semua ini adalah pilihan individu. Bukan berarti aku mendukung sebuah cara bunuh diri, hanya saja aku memang tidak bisa melakukan apa-apa untuk itu.
Aku pernah membaca beberapa surat wasiat dari para tokoh dan penulis yang memilih jalan untuk bunuh diri, dan aku mengerti sesuatu.
Itulah keputusan mereka untuk bergembira dan aku sama sekali tidak berani mengkritik tindakan mereka setelah membaca surat semacam itu. Menghakimi dengan pernyataan superior hanyalah menunjukkan ketidaktahuan dan sikap sok polos tentang pandangan hidup. Seandainya aku harus mengatakan dan meyakinkan seseorang bahwa semua baik-baik saja padahal tidak akan menjadi seperti itu, mungkin aku berbakat untuk mempengaruhi Presiden membuka usaha toko kelontong.
Tapi bagaimanapun itu, aku hanya ingin mengatakan, bagaimanapun kau harus melewati banyak hal, kau adalah orang yang kuat tanpa kau sadari. Bukti bahwa kau berdiri di waktu ini dengan kedua kaki tegak merupakan cerminan dari kekuatanmu untuk bertahan. Seandainya terpikir olehmu untuk mengakhiri hidup, maka aku mohon untuk kau diam dan membayangkan banyak hal yang telah kau lewati. Memang terdengar egois, tapi cobalah untuk melihat betapa kuat dirimu.
Kau, yang terpikir seluruh keburukan dalam hidup.
Aku, yang ingin menghalangimu dengan keegoisanku.
