Dirimu dan Bintang yang Meledak
AKU sangat tidak ingin bergantung pada orang lain. Mungkin ini karena sebuah kalimat "manusia akan berakhir sendirian". Lalu aku akan merasa bahwa obsesi berlebihan pada orang lain hanya menimbulkan kesan memaksa dan tidak tahu diri. Di sisi lain mungkin karena banyak orang yang datang dan pergi begitu saja dalam hidupku. Beberapa orang datang dan menetap, lalu mencari apa yang ingin mereka cari. Jika sudah menemukan atau tidak menemukannya, maka mereka akan pergi begitu saja.
Mungkin di sini aku juga bermaksud memasukkan pasangan dalam kriteria obsesi. Aku menemui banyak orang di sekitarku yang saling menggenggam tangan dengan erat dan berharap hari esok akan tetap menghadapi semuanya bersama. Tapi saat salah satu dari mereka melepaskan genggamannya akan terasa sangat menyakitkan. Hal itu bahkan menjadi pemicu depresi sebagian orang, bahkan sebagai sebuah akhir hidupnya.
Aku sendiri berpikir bahwa daripada menghabiskan waktu menggenggam orang lain, lebih baik aku menggenggam tanganku sendiri. Sejak lahir aku sudah mempunyai dua tangan untuk saling menggenggam dan mempercayai satu sama lain. Walau tidak bisa kupungkiri jika sangat menyenangkan apabila kita memiliki seseorang di samping kita yang saling menggenggam dan berbicara tanpa ada batasan. Seseorang yang tidak akan pergi dan bisa kau percayai hingga rahasia pada dirimu sendiri. Seseorang yang akan menenangkanmu saat orang lain meninggalkanmu dan membuat hatimu menjadi semakin lega setelah bercerita panjang lebar padanya. Seseorang yang menghargai dirimu seperti kau menghargai dirimu sendiri.
Aku berharap, mereka yang berpikir tentang hal ini bisa menemukan seseorang semacam itu. Kau butuh seseorang untuk berbagi perasaan, tapi hargailah orang lain. Jangan kau jadikan orang lain sebagai pelampiasan perasaan semata tanpa menghargai segala bentuk keprihatinan yang telah dia berikan padamu.
Walaupun tidak saling membutuhkan, tapi kuharap kau memiliki seseorang yang bisa saling mengerti.
