Code Name : Grey
AKHIR-akhir ini karena perubahan keadaan, aku lebih sibuk daripada biasanya. Waktu untuk memikirkan banyak hal pun semakin sedikit dan tidak bisa fokus saat membaca buku. Padahal banyak sekali pikiran-pikiran terlintas dalam kepalaku. Pikiran positif harus segera kutulis dan yang negatif harus segera kulampiaskan. Namun karena ketiadaan waktu, aku hanya bisa memikirkannya sejenak tanpa mendapat apa-apa.
Mungkin orang lain merasa bahwa aku emosional apabila mereka benar-benar mengenalku dengan baik. Karena ini juga mungkin ada sebuah sisi hangat dalam diriku yang bisa kusebarkan bagi beberapa orang. Namun, kelemahanku karena hal-hal kecil memberikan dampak yang besar bagi sisi emosional semacam itu. Bisa jadi karena sebuah alasan atau tanpa alasan, emosiku hancur dan aku merasa tidak bisa melakukan apa-apa, itulah kelemahan terbesarku. Mungkin mempunyai banyak pemikiran adalah salah satu ciri memiliki banyak kekurangan dan kelebihan. Tapi untuk saat ini aku tidak punya tempat untuk menyebarkan kehangatan.
Karena itulah aku menulis. Aku ingin berbagi tentang siapapun yang membaca ini. Tidak penting apakah kau mengenalku atau tidak, tapi aku ingin kita merasakan emosi yang sama. Bahwa kehidupan bisa berbanding kapan saja. Di saat kau merasakan ada kekurangan besar dalam dirimu yang membuatmu ingin menangis dan berteriak, maka di lain sisi ada sebuah kebaikan dalam dirimu yang menunjukkan personalia yang menakjubkan. Tulisan adalah wadah untuk antarmanusia bisa bercerita secara terbuka tanpa takut menyinggung orang lain. Mungkin kita sama, bahwa kita takut berbicara di depan orang lain tentang diri kita sendiri karena takut kehilangan. Jadi jika kau merasa butuh tempat untuk bercerita, tiap warna putih kertas akan menjadi temanmu yang berharga.
Menurutku, sangat sulit membenarkan sebuah pernyataan, 'kita hidup selama kita bernapas', karena ungkapan semacam itu terasa aneh. Sama seperti 'aku menyukaimu sepanjang waktu'. Bahkan perasaan bukanlah tolak ukur untuk jangkauan waktu. Bisa jadi sekarang aku menyukai seseorang dan bisa jadi aku kemudian membencinya. Waktu tidak akan pernah bisa disatukan dengan perasaan karena keduanya adalah hal yang kontradiktif. Perasaan tidak akan pernah bisa diikat dengan waktu karena itu adalah hal yang berubah-ubah menurut keadaan. Kedua ungkapan itu memiliki ujung yang sama dalam sebuah penafsiran. Memang, mungkin hal ini sangat bersifat subyektif karena tiap orang memiliki pemikiran mereka masing-masing, tentu saja tidak akan pernah ada jawaban yang tepat dalam hal ini karena tidak ada dasar yang melandasinya. Meskipun kita memiliki pikiran yang sama, kita tidak akan pernah bisa sama dalam segala hal. Karena kita memiliki situasi yang berbeda dan orang-orang yang berbeda.
Jadi, seiring berkembangnya waktu, kita akan menemui banyak kontradiksi di sekitar kita. Pada akhirnya, semua hal yang tidak cocok bagi kita akan dirasa sebagai kontradiksi walaupun sebelumnya kita menyetujuinya. Aku hanya ingin mengatakan, bagaimanapun kau menyikapi hal-hal itu sekarang, kau harus percaya pada emosi dalam dirimu untuk menilai baik ataupun buruk. Mungkin terkadang emosimu akan salah dalam menilai, tapi penyesalan karena itu akan jauh lebih kecil dibanding kau tidak mengikutinya.
Setidaknya, karena semua yang kau lakukan itu untuk dirimu sendiri, maka cukup lakukan untuk dirimu sendiri. Tidak masalah jika orang lain tidak menyukainya, sebab, kau sendiri yang mengetahui dirimu melebihi siapapun.
