Alone

 

TERKADANG aku bingung tentang cara bertindak. Ada sebuah waktu dimana aku hanya diam dan berpikir banyak hal, terutama hal-hal negatif. Pikiran semacam itu muncul dengan sendirinya dan membuka kotak dalam pikiranku. Bahkan untuk hal-hal remeh sekalipun, hal ini sering terjadi. Aku berpikir bahwa ini adalah kebiasaan buruk karena menghambatku dalam mengambil keputusan. Namun, sekuat apapun aku berusaha menghilangkannya, kebiasaan semacam itu tidak dapat dihilangkan dengan mudah. Mungkin saja ini semacam sifat bawaan dalam diriku yang tidak bisa dihilangkan hanya dengan kata-kata. Seperti orang pemikir yang diharuskan bekerja cepat ataupun mereka yang berkepribadian tergesa-gesa diharuskan bekerja secara perfeksionis. Jadi, aku memutuskan untuk mencintai diriku pada bagian itu dan menganggapnya sebagai sebuah kelebihan.

Bukan berarti aku memanjakan diriku sendiri, tapi terkadang hal-hal yang dibenci orang lain menjadikan kita membenci diri sendiri. Aku tidak mau asumsi orang lain masuk dalam diriku dan menjadikanku seseorang yang tidak bisa mengevaluasi diri. Aku sudah kelelahan dengan perasaan semacam itu karena memang ada banyak hal yang kubenci dalam sekali waktu. Terkadang aku menyukai sesuatu dan terkadang juga membencinya. Bisa jadi aku mencintai seseorang dan ingin meluap-luap karena perasaan itu. Sesaat setelah itu perasaan tersebut lenyap begitu saja. Mungkin ada yang menganggap perasaan semacam ini hanya muncul sesekali, tapi aku sudah merasakan itu hampir setiap hari.

Banyak orang muncul di hidupku dan berinteraksi denganku, tapi beberapa dari mereka lantas pergi tanpa meninggalkan sebuah kenangan. Di antara mereka ada yang pergi karena keinginan mereka sendiri dan juga karena kesalahanku. Kata-kata adalah sebuah mantra yang bisa menyihir orang lain. Mungkin kalimat itu benar-benar tepat bila diterapkan dalam kehidupan sosial. Terlalu naif apabila saat emosi negatif muncul dalam pikiranku yang membuat diriku sedikit bicara ataupun memasang wajah datar dan berpikir,

"Mereka seharusnya memahamiku."

Tapi, seharusnya akulah yang memahami mereka karena tentu saja mereka tidak bisa membaca perasaanku dengan mudah. Aku menahan emosi itu dan memendamnya dalam-dalam agar tidak nampak perubahan pada fisikku terkait emosi tersebut. Bisa dibilang bahwa kebiasaan ini tidaklah sehat, tapi aku tidak ingin seseorang pergi dari sisiku karena kesalahan kecil yang aku perbuat ataupun kata-kata yang tidak sengaja terlontar. 

Karena itulah terkadang aku adalah seseorang yang tidak punya pendirian. Aku ingin sekali mencaci diriku sendiri saat aku merasa demikian, tapi aku bertanya-tanya, apa gunanya memaki diri sendiri atas sesuatu yang tidak bisa kita lakukan?


Postingan populer dari blog ini

Viola

Book Review - Gila Baca Ala Ulama

Untuk Apa Aku Menulis?