Tokyo Night Stories - Ryu Murakami | Aruna Areva

 


Sinopsis :

Tokyo Night Stories menyajikan sisi-sisi Ryu Murakami yang mungkin tidak diharapkan oleh para penggemar beratnya. Di dalam buku ini ia menceritakan kisah-kisah yang menarik, aneh, seru, dan agak mengganggu. Kita akan mengikuti tokoh-tokoh yang hidup dan berkeliaran di Tokyo yang mengalami dekadensi pada tahun delapan puluhan.

Ryu Murakami dengan jeli bercerita perihal gadis-gadis Tokyo, seks, obat-obatan terlarang, musik, bisbol, film, hingga kehidupan seorang ayah yang mempertanyakan orientasi seksualnya.

“Memotret sisi yang penuh kerut dari ibu kota Jepang… menangkap cita rasa unik dari sebuah kota melalui dialog-dialognya yang tajam dan deskripsi yang menyakitkan tetapi begitu indah.” —World Literature Today




 

Dua orang penulis bermarga Murakami sudah sangat dikenal khalayak ramai. Walaupun namanya tidak terlalu terkenal karena tertindih oleh 'Murakami lainnya' yaitu Haruki Murakami yang lebih terkenal di barat dan negara asing lainnya. Ryu Murakami sangat produktif pada bidang kepenulisan. Terbukti dengan banyaknya tulisan yang sudah dia publikasikan; novel, kumpulan cerita pendek, esai dan tulisan non-fiksi lainnya. Bahkan Ryu juga menulis tentang buku gambar yang diilluastrasikan oleh kawannya. Tokyo Night Stories adalah kumpulan cerpen yang berisikan tujuh cerpen. Dimulai dengan sebuah cerpen berjudul The Wild Angels dan diakhiri dengan cerpen Itu Semua Dimulai Sekitar Satu Setengah Tahun yang Lalu. Buku yang cukup tipis namun berisikan sebuah perasaan pesimisme yang sangat terasa. Tiap cerpen hampir selalu berisikan sebuah penyesalan masa lalu. Ada sebuah ciri khas menarik pada buku ini, dimana akhir dalam beberapa cerpen terdapat sebuah kalimat, "Larilah, Takahashi." Yang merujuk pada seorang pemain bisbol dan berlatar saat menonton pertandingan bisbol. Walaupun ketujuh cerpen memiliki cerita dan setting yang berbeda, namun penulis dengan mulus membimbing tokoh menuju satu kalimat yang sama. Kemungkinan kalimat "Larilah, Takahasi" ini merujuk dalam salah satu cerita pendeknya dengan judul yang sama Hasir! Takahashi! (走れ!タカハシ)

Tokyo Night Stories diterbitkan oleh Odise Publishing dan diterjemahkan oleh Dewi Martina ini berjumlah 170 halaman. Bukan termasuk buku yang tebal namun disarankan untuk membaca dengan perlahan dan menikmati tone dalam tiap penulisan Ryu Murakami yang dirasa cukup gelap. Beberapa cerita menceritakan tokoh yang hidup dalam sebuah dekadensi dan gejolak batin dalam dirinya sendiri. Jika anda membaca karya Ryu Murakami dan membandingkannya dengan karya Osamu Dazai, maka akan anda temukan bahwa Ryu bisa disebut 'pewaris spiritual' dari Osamu Dazai. Kepenulisan dua orang ini hampir sama; seperti minuman keras dan narkoba. Mengamati kebusukan dan kecerobohan dari komedi manusia di sekitar mereka.

"Kebahagiaan didasari oleh rahasia dan kebohongan." -hal 163

Dalam cerpen pertama akan anda temukan perasaan yang cukup menusuk dari tokoh. Bahkan, tempat pelarian tokoh; narkoba, tidak lagi bisa memberikan sebuah kenyamanan dalam hatinya. Ada juga sebuah cerpen yang mengadopsi tema doppelganger yang berjudul Aku Seorang Novelis dimana seorang penipu lebih menarik daripada penulis aslinya. Cerita cukup menusuk lainnya adalah berjudul Topaz karena menceritakan dari perspektif wanita pekerja seks itu sendiri. Tentang bagaimana cara kerja para pekerja seks yang terorganisis dalam sebuah bar dengan gaya penulisan yang vulgar. Oleh karena itu beberapa cerpen berisikan banyak adegan seksual yang kemungkinan tidak mengenakkan bagi sebagian orang. Walaupun tidak detail dan cenderung ditahan, namun kalimat yang sinis membuat rasa dalam penggambaran itu terasa berbeda. Minat Ryu Murakami terhadap film juga tercurahkan pada cerpennya berjudul La Dolce Vita yang -dalam tulisannya banyak menunjukkan minat Ryu terhadap musik serta film, terkhusus Federico Fellini.

Secara keseluruhan, Ryu Murakami membahas tentang topik-topik yang tidak banyak ditemukan pada novel-novel ataupun cerita barat yang kebanyakan mengangkat tema fantasi. Sedangkan Murakami mengangkat hal-hal yang dianggap tabu oleh masyarakat dan menuliskannya dengan elegan. Dari sinilah membuat tulisan Murakami dipandang cukup kuat sebagai contoh gelap sebuah masyarakat. Dengan halus, Murakami juga memberikan sebuah gagasan-gagasan kuat dengan sebuah ketajaman yang menunjukkannya memahami seluk beluk suatu masyarakat. Hal ini memberikan sebuah gagasan baru, bahwa jika anda ingin memahami masyarakat, maka mulailah dari orang-orang yang merasa tidak puas dengan hidupnya sendiri. Serta alasan orang-orang terjerumus pada narkoba dan seksual, karena dua hal itu merupakan pelarian anak muda dari masyarakat.

Dari beberapa karyanya juga menunjukkan, bagaimanapun kita memandang dunia, dari sebuah nihilisme, sinisme dan ketidakpedulian kita, ada sebuah hal dalam diri kita yang menunggu untuk dimanfaatkan. Akan ada waktunya untuk hal-hal tersebut keluar dan menjadikan kita sebagai seseorang yang 'memiliki bakat'.

Perhatian khusus juga terarah pada penerjemah yang cukup terampil dan tidak dirasakan ada sebuah keganjilan dalam terjemahannya. Walaupun saya pribadi tidak terlalu perhatian dalam hal semacam ini, tapi tidak ada perasaan aneh atau ganjil saat membaca kumpulan cerita yang diterjemahkan oleh Dewi Martina. Yang berhasil membawakan perasaan tak kenal takut Ryu Murakami serta hasrat manusia yang diceritakan melalui kisah bawah tanah megapolis Tokyo dan perkotaan Jepang.

"Aku benci orang yang menangis ketika membicarakan sesuatu yang penting. Baik pria maupun wanita. Jangan percayai orang yang menangis. Mereka pikir mereka adalah pusat dunia, dan air mata mereka dapat membebaskan mereka dari apapun." -hal 134

Postingan populer dari blog ini

Viola

Book Review - Gila Baca Ala Ulama

Untuk Apa Aku Menulis?